Bali
atau yang kita dikenal dengan sebutan “pulau seribu pura”, “pulau dewata”, “the
island of god”, dan masih banyak sebutan lain untuk Pulau yang indah ini. Kala itu
saat Jurusanku mengadakan Kuliah Kerja Lapangan, aku berkesempatan mengunjungi
Pulau ini. Perjalanan dari Bandung menuju Bali ditempuh kurang lebih 2 hari 1
malam menggunakan bis pariwisata, dilanjut dengan menaiki kapal ferry. Tahukah
kamu? Sesungguhnya aku merasa cemas ketika menaiki kapal, karena itu merupakan
kali pertama bagiku. Lebay memang. Rasa lelah itu terbayarkan ketika sampai di
“Dewata Island”.
Sungguh,
ku terkagum dengan keindahan Pulau ini. Pantas saja, banyak wisatawan domestik
maupun mancanegara yang terus ingin kembali ke Pulau ini. Kunjungan pertama ke
Tanah Lot. Objek wisata ini terletak di Beraban, Tabanan, Bali. Di tanah lot
ini terdapat dua pura yang terletak diatas tebing, mirip dengan pura uluwatu.
Konon, sejarah Tanah Lot berdasarkan legenda Dang Hyang Nirartha memindahkan
batu karang (tempat ia bermeditasi) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual.
Lalu batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot, yang memiliki arti batu karang
yang berada di tengah lautan. Di sini juga terdapat mitos mengenai tirta suci
atau air suci yang terdapat di dalam goa. Di dalam goa, kalian akan melihat
sebuah mata air yang disucikan, konon kita bisa meminta keselamatan dan
menghilangkan energy negatif yang berada di diri kita. Menurut istilah Bali
nya, kita melakukan “melukad” disana. Selain itu, mitos yang beredar juga
menyebutkan bahwa air suci ini dapat membuat orang yang membasuh wajahnya
menjadi awet muda dan berseri-seri.
Ketika
akan memasuki area pura, pengunjung dianjurkan menggunakan pakaian adat seperti
kamen dan selendang. Tetapi wisatawan tidak diperbolehkan memasuki area pura
yang berada di atas, karena tidak sembarang orang, khususnya yang non-Hindu
agar kesakralan serta kesucian Pura Tanah Lot tetap terjaga.



