Senin, 10 September 2018

Kenangan manis di Pulau Dewata



 Bali atau yang kita dikenal dengan sebutan “pulau seribu pura”, “pulau dewata”, “the island of god”, dan masih banyak sebutan lain untuk Pulau yang indah ini. Kala itu saat Jurusanku mengadakan Kuliah Kerja Lapangan, aku berkesempatan mengunjungi Pulau ini. Perjalanan dari Bandung menuju Bali ditempuh kurang lebih 2 hari 1 malam menggunakan bis pariwisata, dilanjut dengan menaiki kapal ferry. Tahukah kamu? Sesungguhnya aku merasa cemas ketika menaiki kapal, karena itu merupakan kali pertama bagiku. Lebay memang. Rasa lelah itu terbayarkan ketika sampai di “Dewata Island”. 
 
Sungguh, ku terkagum dengan keindahan Pulau ini. Pantas saja, banyak wisatawan domestik maupun mancanegara yang terus ingin kembali ke Pulau ini. Kunjungan pertama ke Tanah Lot. Objek wisata ini terletak di Beraban, Tabanan, Bali. Di tanah lot ini terdapat dua pura yang terletak diatas tebing, mirip dengan pura uluwatu. Konon, sejarah Tanah Lot berdasarkan legenda Dang Hyang Nirartha memindahkan batu karang (tempat ia bermeditasi) ke tengah pantai dengan kekuatan spiritual. Lalu batu karang tersebut diberi nama Tanah Lot, yang memiliki arti batu karang yang berada di tengah lautan. Di sini juga terdapat mitos mengenai tirta suci atau air suci yang terdapat di dalam goa. Di dalam goa, kalian akan melihat sebuah mata air yang disucikan, konon kita bisa meminta keselamatan dan menghilangkan energy negatif yang berada di diri kita. Menurut istilah Bali nya, kita melakukan “melukad” disana. Selain itu, mitos yang beredar juga menyebutkan bahwa air suci ini dapat membuat orang yang membasuh wajahnya menjadi awet muda dan berseri-seri.

Ketika akan memasuki area pura, pengunjung dianjurkan menggunakan pakaian adat seperti kamen dan selendang. Tetapi wisatawan tidak diperbolehkan memasuki area pura yang berada di atas, karena tidak sembarang orang, khususnya yang non-Hindu agar kesakralan serta kesucian Pura Tanah Lot tetap terjaga.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar