Minggu, 30 Juli 2017

Islam Abad 21

Assalamualaikum..
hi teman-teman, kali ini aku mau sedikit sharing aja nih.. jadi waktu itu aku sih iseng-iseng aja gitu yaa ikutan lomba di kampus, ehh.. tanpa disangka-sangka aku juara 1 :) hehe. tapi, aku sadar essai aku ini masih banyak kekurangan. kalau kalian punya pengalaman lebih, boleh lah yaa kita saling sharing hehe..



Islam Abad 21

           Islam merupakan ajaran universal, misi dari kebenaran ajarannya melampaui batas-batas suku, etnis, bangsa, dan bahasa. Secara historis-sosiologis, pada abad 21 umat islam semakin sadar bahwa islam benar-benar tertantang memasuki panggung dakwah yang berskala global, yang disebabkan oleh revolusi teknologi transportasi dan informatika serta komunikasi. Salah satu karakter islam adalah sifatnya yang dinamis, hal tersebut tampak dari keluasan  ajaran-ajaran yang dapat dipakai oleh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun.
Sepanjang abad ke-20 dan abad ke-21, pergolakan terus berlangsung di bumi islam. Dari tahun ke tahun, hari ke hari, menit ke menit, bahkan detik ke detik umat islam dibelahan dunia terus dipertontonkan dengan peristiwa pendzaliman, pembasmian, pembunuhan, dan kebiadaban yang terus terjadi. Globalisasi telah banyak membawa dampak negatif khususnya bagi manusia itu sendiri, oleh karena itu peranan islam sangat penting sebagai filter segala sesuatu yang menyebar dan islam harus menjadi pengendali.
            Menurut netizen di abad milenial ini, kita merasakan matinya kreativitas dalam pemikiran dunia Islam. Belum ada yang mampu menyamai karya-karya Ibn Taimiyyah, Al Ghazali, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Rasyid Ridha, Ali Syari’ati, Muhammad Iqbal, Muhammad ‘Abduh, Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, dan cendekiawan muslim lainnya. Kebanyakan pada saat ini merupakan pemikir pemamah,  bukan pemikir produsen yang menciptakan sesuatu yang segar, yang mampu menjembatani clash pemikiran antara yang liberal dengan tradisional. Generasi muda seperti tak mampu berpikir independen, ketakutan dicap liberal oleh kelompok fundamental, dan ketakutan dicap “pertengahan” oleh kelompok liberal. Umat seperti sedang diadu domba oleh sesuatu yang entah apa namanya. Keadilan sosial dalam Islam bukan berarti masyarakat sosialis yang merata dalam kamus sosialisme. Akan tetapi, terletak pada distribusi zakat harta sebesar 2,5% yang tidak memberatkan pihak mana pun. Akumulasi zakat harta ini kemudian dibagikan secara merata kepada yang berhak menerima, untuk memberikan mereka lapangan usaha agar mampu berdikari secara ekonomi. Bantuan sosial dalam Islam berupa pendampingan dan pemberian kail, bukan sekadar memberikan ikan. Terlebih lagi Islam menganjurkan kesederhanaan untuk menekan sifat cemburu dan nafsu tak terkendali dari manusia. Islam tidak anti materialisme, tetapi dalam Islam, materi itu dispiritualkan sebab segala sesuatu yang bebas nilai amat mungkin menimbulkan kekacauan. Perkembangan islam di Indonesia mengalami kemajuan yang lebih cepat dari pada masa sebelumnya. Dinamisasi islam yang terjadi tidakdapat dilepaskan dari munculnya para intelektual muda. Islam di Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dengan islam di belahan dunia. Sejak awal datangnya islam di Indonesia mengalami akulturasi dengan kepercayaan purba, pra islam, dan sosio-kultural setempat.
Menurut Amin Rais, dinamisasi syiar islam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pertama sejak masa orde lama, islam sebagai kekuatan politik mengalami kemandekan hingga runtuhnya orde baru. Kemandekan tersebut mendorong umat islam untuk menggerakkan kegiatan sosial, pendidikan, budaya, dakwah secara intensif. Kedua, watak islam yang senantiasa dinamis yang memungkinkan pemeluknya bersikap statis. Ketiga, khusus di kampus fenomena dakwah yang beberapa tahun terakhir semakin meningkat menunjukkan adanya kesadaran beragama di kalangan mahasiswa yang semakin mendalam. Keempat, adanya kesadaran dalam diri generasi muda, juga karena ekologi sosial, politik, dan budaya. Kelima, generasi muda yang semakin terpelajar menyadari peliknya memecahkan berbagai permasalahan nasional Indonesia di masa depan.
Kehidupan manusia di dunia ini tentu tak luput dari tantangan, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Tantangan merupakan bagian dari sunatullah yang harus dihadapi dan diatasi oleh manusia, baik secara seorangan maupun secara bersama-sama. Tantangan yang akan muncul di era 2000-an merupakan masalah besar dan kompleks, karena persoalan-persoalan yang muncul pada era tersebut tidak hanya muncul secara alamiah melainkan didukung oleh faktor ilmu pengetahuan, teknologi, dan semakin mengglobalnya masalah dunia. Dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, tantangan yang dihadapi menjadi semakin rumit. Tantangan tersebut tak mengenal ruang, batas, waktu, dan lapisan masyarakat, melainkan masuk ke seluruh sektor kehidupan dan hajat hidup manusia, termasuk dalam masalah agama. Artinya, kehidupan keagamaan umat manusia dimanapun ia berada akan menghadapi tantangan yang sama meskipun dalam nuansa yang berbeda (Tantangan dan Harapan Umat Islam Di Era Globalisasi, 2003, hlm. 65).
            Masyarakat muslim pada abad 21 mengalami keterpurukkan akibat dari perkembangan masyarakat yang tidak dinamis, misalnya islam disamakan dengan kekerasan, kemiskinan, dan penghinaan. Lebih rusaknya lagi ialah telah semaraknya tetorisme. Salah satu contohnya ialah peristiwa 11 September 2001 telah memberikan alas an yang nyaman yang mempromosikan teori dari benturan peradaban. Hal itu terjadi karena kurangnya persatuan umat islam. Harapan dari penulis terhadap umat islam di era globalisasi diantaranya memahami ajaran islam dengan sebaik-baiknya. Maksudnya ialah komitmen umat isla terhadap agama islam. Inti komitmen muslim terhadap islam terdapat dalam Q.S. Al-‘Asr (103). Perdamaian berdasarkan keadilan dan persaudaraan. Maksudnya ialah perdamaian sangat berkaitan dengan keadilan, sebab perdamaian tidak akan pernah terwujud tanpa adanya keadilan.

3 komentar:

  1. Izin mengulas mengenai essay ini. Di bagian awal terasa sangat keren sekali, sangat pantas jika essay ini menjadi juara 1, urgensinya sangat pas dengan kondisi masa sekarang, bahasanya cukup lugas dan dimengerti, essaynya membuat pembaca seakan menghayati mengikuti alur dari penulis buat. Namun saya memberikan saran bahwa alangkah lebih bagus lagi jika essay ini memuat banyak sumber, hadist yang mendukung agar essay ini menjadi lebih bagus.
    Terimakasih

    BalasHapus